Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan
dari Gunung
merapi)
| Merapi | |
|---|---|
| Ketinggian | 2.968 m (9.737 kaki) |
| Daftar | Ribu, Gunung api Tipe A |
| Lokasi | |
| Lokasi | Klaten, Boyolali, Magelang (Jawa Tengah), Sleman (DI Yogyakarta) |
| Koordinat | 7°32'30" LS 110°26'30" BT |
| Geologi | |
| Jenis | stratovolcano |
| Letusan terakhir | 2010 |
Merapi (ketinggian
puncak 2.968 m dpl, per
2006) adalah gunung
berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api
teraktif di Indonesia. Lereng sisi
selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten
Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan
hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak
tahun 2004.
Gunung ini sangat
berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai
lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun
1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68
kali.[rujukan?] Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah
kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih
terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh
karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas
gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade
Volcanoes).[1]
Daftar isi |
Geologi
Gunung Merapi adalah
gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung
ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke
bawah Lempeng
Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah
Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini
tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.[2]
Proses pembentukan Gunung
Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.[3] Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi
perkembangan Merapi dalam empat tahap.[4] Tahap
pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi
yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua
terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 -
8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di
bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi
Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak
tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava
andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi
lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan)
dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan
material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7
km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau
Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang,
Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam
perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan
lapisan tefra.
Karakteristik letusan
sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara
periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur
di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum
tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai
2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[2]
Pakar geologi pada tahun
2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti
lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para
ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung
magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng
Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia[6].
Letusan-letusan kecil
terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali.
Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786,
1822, 1872, dan 1930.
Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh
bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan
timbunan debu vulkanik.[7] Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori
bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah
ke Jawa Timur. Letusan pada
tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan
skala VEI mencapai 3 sampai
4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati
atau sama. Letusan tahun 1930, yang
menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan
dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.[rujukan?]
Letusan bulan November
1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa
dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun
mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir
gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung
terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan
sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena
terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010
dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872[8] dan memakan
korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[9], meskipun
telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian.
Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi"
karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar
hingga jarak 20-30 km.
Gunung ini dimonitor
non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan
berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung
serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos
(Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.
Erupsi 2006
Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi
akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah
daerah Jawa Tengah dan DI
Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah
dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi
segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.
Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah
melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah
Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume
lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah
memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru
akan langsung keluar dari kubah Merapi.
1 Juni, Hujan
abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari
belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi,
paling merasakan hujan abu ini. [10]
8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus
dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah
lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini
tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB.
Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali
Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.
[11]
Erupsi 2010
Peningkatan status dari
"normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.
Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak
pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan.
Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi
gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta
merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni
wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke
wilayah aman.
Erupsi pertama terjadi
sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26
Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan
material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas
yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan,
Sleman.[12] dan menelan korban 43 orang, ditambah
seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.
Sejak saat itu mulai
terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar
yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54
WIB.[13] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di
puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai
lubang kawah.
Namun demikian, berbeda
dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru,
malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas
sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari
Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan
panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga
siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan
mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam,
radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian
letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar
27 km dari puncak), Kota
Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan
kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu
vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu
vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung,[14] dan Bogor.[15]
Bahaya sekunder berupa
aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4
November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November
Kali Code di kawasan Kota
Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red alert). [16][rujukan?]
Letusan kuat 5 November
diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi
sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15
November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15
km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab.
Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[17]
Vegetasi
Gunung Merapi di bagian
puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis
tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron
dan edeweis
jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.
Lereng Merapi, khususnya
di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan
'Nglumut'.
Rute pendakian
Gunung Merapi merupakan
obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat
mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara
dari Sèlo, Kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah,
tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di
antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan
waktu sekitar lima jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain
adalah melalui Kaliurang,
Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di
sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke
puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari
Sawangan, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah
dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Lihat pula
Galeri
Foto-foto Merapi dari sisi sebelah utara, setelah letusan 2006.-
Merapi dari arah Ketep, Magelang.
-
Dari arah Jrakah, Boyolali.
-
Dari arah Selo, Boyolali. Tampak puncak Batulawang (puncak Merapi tua) di sebelah kiri.